Berbicara tentang fauna yang terancam punah di indonesia ,
ada beberapa fauna di indonesia yang statusnya sudah terancam punah yaitu elang
jawa, badak sumatera.
1.
Elang Jawa
Elang Jawa merupakan salah satu dari jenis burung pemangsa
dan satu-satunya yang endemik Indonesia. Karena daerah penyebarannya hanya
meliputi Pulau Jawa. Indonesia mempunyai tanggung jawab besar dalam upaya
pelestarian burung pemangsa tersebut. Elang Jawa bisa hidup
di hutan primer mulai dari ketinggian 0 meter hingga 3000 meter dari permukaan
laut. Akhir-akhir ini keberadaan Elang Jawa semakin terancam punah dengan
adanya perburuan serta perdagangan satwa baik di pasar lokal maupun
internasional. Hal ini justru sangat memprihatinkan mengingat status dari elang
jawa itu sendiri. Populasi elang jawa di indonesia pada tahun 1995 diperkirakan
hanya sekitar 50 – 60 pasang saja dan grafik populasi itu semakin menurun dan
diperkirakan populasinya yang terpantau di daerah merapi pada tahun 2016 tidak
lebih dari 3.
Faktor – Faktor penyebab menurunnya populasi elang jawa
- Adanya pembukaan lahan , penebangan liar , pembangunan PLTU. Penebangan umumnya dilakukan untuk memperoleh kebutuhan sehari – hari , namun dibeberapa tempat atau daerah terjadi penebangan liar untuk tujuan komersial.
- Perdagangan menjadi faktor lain dari menurunnya populasi elang jawa di indonesia , semua burung elang yang ditangkap dijual ke penadah atau pemesan , ada pula yang langsung dibawa ke pasar burung. Mengingat harga elang yang cukup tinggi , dalam hal ini tentu saja burung – burung yang diperdagangkan adalah yang bertahan hidup , bisa saja yang lainnya mati pada saat penangkapan dan pengangkutan. Sementara spesies ini sangat mudah dikenali atau dicari oleh pemburu dengan melihat dari sangkarnya yang unik untuk mengambil anaknya.
- Hilang dan rusaknya habitat juga menjadi faktor menurunnya populasi elang jawa , habitat utama dikawasan pegunungan dan perbukitan akhir – akhir ini juga terbuka untuk pembangunan , dikhawatirkan elang jawa tidak dapat berpencar dengan baik di habitat bukan alaminya , maka akan terjadi isolasi genetik di antara kantung – kantung habitat yang terfragmentasi dimana mereka bertahan hidup.
- Adanya penggunaan pestisida kimia secara meluas di perkebunan dan sawah yang berbatasan dengan habitat elang jawa, karena habitat tersebut kadang dipergunakan elang jawas sebagai tempat berburu mangsa , ada kemungkinan residu kimia akan terakumulasi di puncak rantai makanannya.
Upaya – upaya perlindungan elang jawa
- UU
Pada tahun 1970 elang jawa bersama
burung-burung pemangsa lainnya di indonesia dilindungi berdasarkan surat
keputusan Nomor 421/kpts/um/1970 , dan untuk jenis langka dan terancam punah
mendapat pasal dengan sanksi hukuman denda sebesar 100 juta rupiah dan hukuman
kurungan 5 tahun.
- Kawasan lindung dan pengelolaan habitat
Langkah terpenting dalam menyelamatkan
elang jawa adalah membentuk kawasan lindung di jawa tengah dan sekitar gunung
dieng , gunung slamet, kawasan – kawasan lindung pegunungan dieng harus
dikhususkan untuk melindungi elang jawa sebagai lambang burung nasional
indonesia.
- Pemantauan dan pengawasan perdagangan
Unit khusus untuk melakukan kunjungan acak
di beberapa pasar burung juga perlu dibentuk serta untuk menyita burung –
burung yang dilindungi dan bila diperlukan dan dilanjutkan dengan penetapan
denda yang sesuai.
Pemasangan micro chip perlu dipertimbangkan
sebagai pemandu atau pemantau individu elang yang dipelihara oleh
lembaga-lembaga.
- Publisitas kepada masyarakat luas
Sebagai satwa nasional kiranya perlu untuk
dipublikasikan secara luas melalui berbagai media cetak dan elektronik guna
untuk menghentikan perdagangannya serta informasi Elang Jawa perlu untuk
dilindungi dan dilestarikan. Perlu membuat film dokumenter tentang Elang Jawa
dan dipublikasikan melaui stasiun TV.
Kampanye penyuluhan bagi masyarakat di
dalam atau di sekitar kawasan hutan konservasi yang dihuni Elang Jawa, harus
ditujukan untuk membangkitkan kebanggaan dan kewaspadaan masyarakat setempat.
Untuk alasan apapun tidak dibenarkan untuk menagkap Elang Jawa untuk pameran
atau untuk tujuan pendidikan.
Beberapa kebun binatang di Indonesia ingin
menagkarkan Elang Jawa. Perlu disadari bahwa penangkaran tidak mempunyai
kontribusi berarti bagi konservasi Elang Jawa. Hampir dapat dipastikan bahwa
elang akan sulit berkembangbiak dalam kondisi lingkungan yang terbatas seperti kandang penangkaran,
dan apabila mereka berhasil berkembangbiak, maka keturunannya tidak akan mampu
kembali ke alam tanpa bantuan manusia
dan diperlukan pendanaan yang sangat
besar. Kalaupun berhasil penangkaran ini tidaklah menyumbang sesuatu bagi
konservasi burung dialam kecuali kalau faktor-faktor ancamannya dapat
dihindari.
2.
Badak Sumatera
Badak sumatera dikenal juga dengan badak berambut atau badak
asia bercula dua , merupakan spesies langka dari famili rhinocerotidae dan
termasuk salah satu dari lima spesies badak yang masih ada. Badak ini adalah
badak terkecil , meskipun masih tergolong hewan mamalia yang besar. Spesies ini
pernah menghuni hutan hujan rawa, dan hutan pegunungan di india, bhutan ,
bangladesh , myanmar , laos , thailand , malaysia , indonesia , dan tiongkok.
Dalam sejarahnya , badak sumatera dahulu tinggal dibagian barat daya tiongkok,
khususnya di sichuan. Mereka terancam punah , diberbagai daerah tersebut dan
sekarang hanya ada di beberapa daerah indonesia yaitu TNBBS , Taman Way kambas
, dan Gunung leuser.
Populasi satwa tersebut bahkan tidak lebih dari 300 ekor ,
tetapi indikasi yang ada menunjukan jumlah populasi sebenarnya lebih rendah
dari perkiraan tersebut. Satwa ini termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang
terancam punah – dalam daftar spesies terancam lembaga konservasi dunia, IUCN.
Populasi terbesar saat ini terdapat di sumatera , sementara populasi yang lebih
kecil terdapat di sabah dan semenanjung malaysia
Para ahli juga memperkirakan bahwa tidak ada satu pun
populasi badak sumatera yang jumlah individunya dalam satu wilayah jelajah
melebihi 75 ekor. Karena kondisi tersebut , mamalia besar ini sangat rentan
terhadap kepunahan baik akibat yang ditimbulkan dari bencana alam, penyakit ,
perbaruan , perburuan , dan kerusakan genetis. Peneliti mengumumkan bahwa pada
tahun 2015 badak sumatera ini sudah punah di daerah sabah , sedangkan untuk di kalimantan belum ada
informasi dan data yang akurat mengenai keberadaan satwa bercula dua ini.
Ancaman paling utama satwa badak bercula dua adalah
kehilangan habitat dan perburuan. Selama bertahun – tahun , perburuan badak
sumatera untuk diambil cula maupun bagian – bagian tubuh lainnya – dipercaya
dapat menjadi obat tradisional – dan akibatnya semakin berkurang populasi satwa
tersebut. Rusaknya hutan juga menjadi ancaman bagi badak sumatera seperti
pembukaan lahan atau hutan , karena habitat hutan tempat berkelangsungan hidup
badak sumatera sekarang dijadikan sebagai kebun kopi dan tanaman pertanian
lainnya. Seiring dengan pembukaan hutan yang begitu cepat dan semakin
terbukanya akses terhadap lokasi didalam taman nasional ancaman serius lainnya
pun muncul : perburuan.
Dalam masalah ini WWF sebagai organisasi konservasi
independent di Taman Nasional Bukti Barisan Selatan ( TNBBS) yang berlokasi di
propinsi lampung dan bengkulu bersama mitranya saat ini berupaya merehabilitasi
habitat badak khususnya dibeberapa lokasi yang dikonversi secara ilegal untuk pengembangan
perkebunan kopi dan beberapa pertanian lainnya. WWF juga membantu memperkuat
upaya – upaya anti pemburuan satwa dilindungi di TNBBS seperti tim patroli
terlatih dikenal dengan nama Rhio Protection Unit ( RPU). Sejak dilakukan upaya
ini , tidak pernah lagi terdengar kasus perburuan badak sumatera di TNBBS.
Populasi elang jawa dan badak sumatera sangat lah
memkhawatirkan , jika populasi hewan tersebut terus mengalami penurunan. Tidak
menutup kemungkinan 5 sampai 10 tahun kedepan kita tidak bisa melihat satwa
tersebut , dan kita hanya bisa melihat satwa tersebut hanya di gambar saja
sebagai satwa yang mengalami kepunahan diindonesia.
Daftar Pustaka :


Tidak ada komentar:
Posting Komentar